Wednesday, 12 September 2012

LAPORAN PENDAHULUAN HERNIA


LAPORAN PENDAHULUAN HERNIA

A.    Definisi
-          Adalah suatu benjolan/penonjolan isi perut dari rongga normal melalui lubang kongenital atau didapat(1).
-          Adalah penonjolan usus melalui lubang abdomen atau lemahnya area dinding abdomen (3).
-          Is the abnormal protrusion of an organ, tissue, of part of an organ through the structure that normally cotains it (1).
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa hernia adalah penonjolan dari isi perut dalam rongga normal melalui lubang yang kongenital ataupun didapat.

B.     Etiologi

Hernia dapat terjadi karena lubang embrional yang tidak menutup atau melebar, atau akibat tekanan rongga perut yang meninggi (2).

C.    Klasifikasi
1.       Menurut/tofografinya : hernia inguinalis, hernia umbilikalis, hernia femoralis dan sebagainya.
2.       Urut isinya : hernia usus halus, hernia omentum, dan sebagainya.
3.       Menurut terlibat/tidaknya : hernia eksterna (hernia ingunalis, hernia serofalis dan sebagainya).
Hernia inferna tidak terlihat dari luar (hernia diafragmatika, hernia foramen winslowi, hernia obturatoria).
4.       Causanya : hernia congenital, hernia traumatika, hernia visional dan sebagainya.
5.       Keadaannya : hernia responbilis, hernia irreponibilis, hernia inkarserata,                   hernia strangulata.



6.       Nama penemunya :
a.       H. Petit (di daerah lumbosakral)
b.       H. Spigelli (terjadi pada lenea semi sirkularis) di atas penyilangan rasa epigastrika inferior pada muskulus rektus abdominis bagian lateral.
c.       H. Richter : yaitu hernia dimana hanya sebagian dinding usus yang terjepit.
7.       Beberapa hernia lainnya :
a.       H. Pantrolan adalah hernia inguinalis dan hernia femoralis yang terjadi pada satu sisi dan dibatasi oleh rasa epigastrika inferior.
b.       H. Skrotalis adalah hernia inguinalis yang isinya masuk ke skrotum secara lengkap.
c.       H. Littre adalah hernia yang isinya adalah divertikulum Meckeli.

D.    Tanda dan Gejala
Umumnya penderita menyatakan turun berok, burut atau kelingsir atau menyatakan adanya benjolan di selakanganya/kemaluan.bnjolan itu bisa mengecil atau menghilang, dan bila menangis mengejan waktu defekasi/miksi, mengangkat benda berat akan timbul kembali. Dapat pula ditemukan rasa nyeri pada benjolan atau gejala muntah dan mual bila telah ada komplikasi.







E.    
Proses vaginalis peritonei
 
Pathways




























 
Gagal abliterasi
 
Terbuka terus
 
Sebagian terbuka
 


H. inguinalis
(terjadi jepitan oleh anulus inguinalis)
 
Hidrokel
 


Gangguan pasase segmen usus yang terjepit
 
Gangguan aliran darah
 


Muntah
hijau
 
Nyeri
 

Abdomen lambung
 

F.     Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diameter anulus inguinalis

G.    Penatalaksanaan (2)
-          Pada hernia inguinalis lateralis reponibilis maka dilakukan tindakan bedah efektif karena ditakutkan terjadi komplikasi.
-          Pada yang ireponibilis, maka diusahakan agar isi hernia dapat dimasukkan kembali. Pasien istirahat baring dan dipuasakan atau mendapat diit halus. Dilakukan tekanan yang kontinyu pada benjolan misalnya dengan bantal pasir. Baik juga dilakukan kompres es untuk mengurangi pembengkakan. Lakukan usaha ini berulang-ulang sehingga isi hernia masuk untuk kemudian dilakukan bedah efektif di kemudian hari atau menjadi inkarserasi.
-          Pada inkerserasi dan strangulasi maka perlu dilakukan bedah darurat.
Tindakan bedah pada hernia ini disebut herniotomi (memotong hernia dan herniorafi (menjahit kantong hernia). Pada bedah efektif manalis dibuka, isi hernia dimasukkan,kantong diikat dan dilakukan “bassin plasty” untuk memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis.
Pada bedah darurat, maka prinsipnya seperti bedah efektif. Cincin hernia langsung dicari dan dipotong. Usus dilihat apakah vital/tidak. Bila tidak dikembalikan ke rongga perut dan bila tidak dilakukan reseksi usus dan anastomois “end to end”.

H.    Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul (3)
1.       Nyeri (khususnya dengan mengedan) yang berhubungan dengan kondisi hernia atau intervensi pembedahan.
Hasil yang diperkirakan : dalam 1 jam intervensi, persepsi subjektif klien tentang ketidaknyamanan menurun seperti ditunjukkan skala nyeri.
Indikator objektif seperti meringis tidak ada/menurun.
a.       Kaji dan catat nyeri
b.      Beritahu pasien untuk menghindari mengejan, meregang, batuk dan mengangkat benda yang berat.
c.       Ajarkan bagaimana bila menggunakan dekker (bila diprogramkan).
d.      Ajarkan pasien pemasangan penyokong skrotum/kompres es yang sering diprogramkan untuk membatasi edema dan mengendalikan nyeri.
e.       Berikan analgesik sesuai program.

2.       Retensi urine (resiko terhadap hal yang sama) yang berhubungan dengan nyeri, trauma dan penggunaan anestetik selama pembedahan abdomen. Hasil yang diperkirakan : dalam 8-10 jam pembedahan, pasien berkemih tanpa kesulitan. Haluaran urine ³ 100 ml selama setiap berkemih dan adekuat (kira-kira 1000-1500 ml) selama periode 24 jam.
a.       Kaji dan catat distensi suprapubik atau keluhan pasien tidak dapat berkemih.
b.       Pantau haluarna urine. Catat dan laporkan berkemih yang sering < 100 ml dalam suatu waktu.
c.       Permudah berkemih dengan mengimplementasikan : pada posisi normal untuk berkemih rangsang pasien dengan mendengar air mengalir/tempatkan pada baskom hangat.

3.       Kurang pengetahuan : potensial komplikasi GI yang berkenaan dengan adanya hernia dan tindakan yang dapat mencegah kekambuhan mereka. Hasil yang diperkirakan : setelah  instruksi, pasien mengungkapkan pengetahuan tentang tanda dan gejala komplikasi GI dan menjalankan tindakan yang diprogramkan oleh pencegahan.
a.       Ajarkan pasien untuk waspada dan melaporkan nyeri berat, menetap, mual dan muntah, demam dan distensi abdomen, yang dapat memperberat awitan inkarserasi/strangulasi usus.
b.      Dorong pasien untuk mengikuti regumen medis : penggunaan dekker atau penyokong lainnya dan menghindari mengejan meregang, konstipasi dan mengangkat benda yang berat.
c.       Anjurkan pasien untuk mengkonsumsi diit tinggi residu atau menggunakan suplement diet serat untuk mencegah konstipasi, anjurkan masukan cairan sedikitnya 2-3 l/hari untuk meningkatkan konsistensi feses lunak.
d.      Beritahu pasien mekanika tubuh yang tepat untuk bergerak dan mengangkat.















DAFTAR PUSTAKA


1.      Core Principle and Practice of Medical Surgical Nursing. Ledmann’s.
2.      Kapita Selekta Kedokteran. Edisi II. Medica Aesculaplus FK UI. 1998.
3.      Keperawatan Medikal Bedah. Swearingen. Edisi II. EGC. 2001.
4.      Keperawatan Medikal Bedah. Charlene J. Reeves, Bayle Roux, Robin Lockhart. Penerjemah Joko Setyono. Penerbit Salemba  Media. Edisi I. 2002.
5.      Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Bagian Bedah Staf Pengajar UI. FK UI.

Monday, 14 May 2012

contoh Strategi Pelaksanaan



STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)
Masalah : Defisit Perawatan Diri
Membimbing pasien menjaga perawatan diri :menggosok gigi


A.  PROSES KEPERAWATAN
1.  Kondisi
a  Klien tampak giginya kotor.
2.  Diagnosa Keperawatan
Defisit perawatan diri :kebersihan diri berhubungan dengan menurunnya kemampuan diri motivasi perawatan diri .
3.  Tujuan Khusus
a.  Klien dapat melaksanakan perawatan diri dengan bantuan perawat

B.  STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)
1.  Orientasi
a.  Salam Terapeutik
“Selamat pagi. Mas Tono,masih ingat dengan suster Ari?Seperti janji kita kemarin ktita akan ngobrol yang bertujuan untuk mengetahui cara- cara menjaga perawatan diri ,mas Tono bersedia?
b.  Evaluasi/Validasi
“Bagaimana perasaan mas Tono hari ini ?....pagi tadi mas Tono,apakah sudah menggosok  gigi ?”
c.  Kontrak
1)  Topik
“Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang cara- cara menjaga perawatan diri khususnya menggosok gigi?
2)  Tempat
“Dimana kita akan berbincang-bincang Mas ?, o  o  o.... di teras  dekat kamar mandi ujung, baiklah”.
3)  Waktu
“Kita akan bercakap-cakap berapa menit ?”. “15 menit !”, ya baiklah”.

2.  Kerja
“yeah sekarang kita akan belajar cara menggosok gigi, pertama mas Tono siapkan alatnya dulu, seperti handuk, pasta gigi, gelas untuk berkumur dan sikat gigi. Pertama mas Tono berkumur,kemudian buka pasta gigi oleskan pada sikat gigi secara merata,kemudian menggosok gigi secara merata ,gigi disikat dari arah atas kebawah, menggosok seluruh gigi dari depan sampai belakang kemudian masTono berkumur  dan membuang pada tempatnya misalnya ini ada bengkok, setelah semuanya selesai bersihkan mulut menggunakan handuk.Sekarang mas Tono coba.



3.  Terminasi
a.  Evaluasi Subyektif
“Bagaimana perasaan mas Joko setelah belajar cara menggosok gigi yang benar ?”.
b.  Evaluasi Obyektif
“ Tampaknya tadi mas Tono sudah dapat menggosok gigi dengan cara yang benar.tepat sekali”
c.  Rencana Tindak Lanjut
“Baiklah mas, mulai nanti sore mas Tono mulai menggosok gigi setiap kali mandi dan sebelum tidur.”
d.  Kontrak
1)  Topik
“Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang cara menjaga perawatan diri berpakaian yang rapi?Setuju”.
2)  Tempat
“Baiklah kalau begitu, dimana kita akan bercaka-cakap, mungkin Mas Joko punya tempat yang teduh dan santai untuk ngobrol ?”
3)  Waktu
“Berapa lama kita akan bercakap-cakap ?”. ”10 menit atau 15 menit”. “Sampai jumpa besok ya, Mas!”.






























Contoh SP

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)
Masalah : Defisit Perawatan Diri
Mendiskusikan tentang pntingnya perawatan diri


A.  PROSES KEPERAWATAN
1.  Kondisi
a  Klien tampak kumal
2.  Diagnosa Keperawatan
Defisit perawatan diri :kebersihan diri berhubungan dengan menurunnya kemampuan diri motivasi perawatan diri .
3.  Tujuan Khusus
a.  Klien mengetahui tentang pentingnya perawatan diri

B.  STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)
1.  Orientasi
a.  Salam Terapeutik
“Selamat pagi. Mas Tono,masih ingat dengan suster Ari?Seperti janji kita kemarin kita akan ngobrol  yang bertujuan untuk mengetahui pentingnya menjaga perawatan diri ,mas Tono bersedia?
b.  Evaluasi/Validasi
“Bagaimana perasaan mas Tono hari ini ?....pagi tadi mas Tono,apakah sudah mandi,menggosok  gigi, keramas?”
c.  Kontrak
1)  Topik
“Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang pentingnya menjaga perawatan diri?
2)  Tempat
“Dimana kita akan berbincang-bincang Mas ?, o  o  o.... di teras  dekat kamar mandi ujung, baiklah”.
3)  Waktu
“Kita akan bercakap-cakap berapa menit ?”. “15 menit !”, ya baiklah”.

2.  Kerja
“yeah sekarang kita akan ngobrol tentang pentingnya menjaga perawatan diri.Nah.....sekarang apa yang menyebabkan mas Tono tidak melakukan perawatan diri?...............menurut mas Tono manfaat perawatan diri  secara fisik?................,mental?................,sosial?...............Kemudian menurut mas tono tanda tanda perawatan diri yang baik seperti apa?................(didiskusikan bersama perawat)...Klo orang yang tidak mau menjaga perawatan diri dengan baik dapat menyebabkan penyakit atau gangguan kesehatan seperti............Bagus sekali mas Tono sudah mengetahui tentang pentingnya perawatan diri.




3.  Terminasi
a.  Evaluasi Subyektif
“Bagaimana perasaan mas Joko setelah bercakap –cakap tentang pentingnya menjaga perawatan diri?”.
b.  Evaluasi Obyektif
“ Tampaknya tadi mas Tono sudah dapat menyebutkan alasan mas Tono tidak mau melaksanakan perawatan diri,kemudian manfaat menjaga perawatan diri, tanda-tanda perawatan diri yang baik dan penyakit atau gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kurangnya perawatan diri.”
c.  Rencana Tindak Lanjut
“Baiklah mas, setelah kita bercakap-cakap, nanti sore mas Tono mengingat kembali tentang tanda-tanda perawatan diri yang baik dan jangan lupa mas Tono nanti sore mandi.
d.  Kontrak
1)  Topik
“Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang cara menjaga perawatan diri:mandi yang benar?Setuju”.
2)  Tempat
“Baiklah kalau begitu, dimana kita akan bercaka-cakap, mungkin Mas Joko punya tempat yang teduh dan santai untuk ngobrol ?”
3)  Waktu
“Berapa lama kita akan bercakap-cakap ?”. ”10 menit atau 15 menit”. “Sampai jumpa besok ya, Mas!”.